RPL (REKAYASA PERANGKAT LUNAK)
Selama 50 tahun terakhir telah terjadi kemajuan revolusioner di bidang teknologi, yang mengarah pada perbaikan kinerja perangkat keras dan perubahan besar dalam arsitektur komputasi. Kemajuan ini telah menyebabkan produksi sistem berbasis komputer yang kompleks yang mampu memberikan informasi dalam berbagai format. Meningkatnya daya komputer telah membuat aplikasi komputer yang tidak realistis menjadi proposisi yang layak, menandai asal mula era di mana produk perangkat lunak jauh lebih kompleks dibandingkan sebelumnya. Dengan mempelajari dan mempraktikan ilmu rekayasa perangkat lunak (software engineering), sistem kompleks ini dapat dikembangkan secara sistematis dan efisien.
Menurut IEEE, rekayasa perangkat lunak didefinisikan sebagai penerapan pendekatan sistematis, disiplin, dapat diukur terhadap pengembangan, operasi, dan pemeliharaan perangkat lunak; Artinya, penerapan teknik yang dilakukan untuk perangkat lunak. Rekayasa perangkat lunak dapat didefinisikan sebagai pendekatan sistematis untuk mengembangkan perangkat lunak dalam waktu dan anggaran yang ditentukan.
Rekayasa perangkat lunak adalah disiplin teknologi yang menggabungkan konsep ilmu komputer, ekonomi, kemampuan komunikasi, dan ilmu manajemen dengan pendekatan pemecahan masalah dari teknik. Ini juga melibatkan pendekatan terstandar untuk pengembangan program, baik dalam aspek manajerial maupun teknisnya.
Pengetahuan mendalam tentang ilmu komputer baik teoritis maupun praktis merupakan dasar rekayasa perangkat lunak. Pengetahuan teoritis memberikan pemahaman tentang masalah mana yang dapat diatasi, struktur data dan algoritma apa yang sesuai, kapan dan bagaimana penggunaannya, dan lain sebagainya. Di sisi lain, pengetahuan praktis memberikan pemahaman tentang bagaimana fungsi perangkat keras, bagaimana memanfaatkan kekuatan bahasa pemrogramanan dan tools terkait saat mengembangkan perangkat lunak, dan lain-lain.
Salah satu tujuan utama rekayasa perangkat lunak adalah membantu pengembang mendapatkan perangkat lunak berkualitas tinggi. Kualitas ini dicapai melalui penggunaan Total Quality Management (TQM), yang memungkinkan proses perbaikan secara terus-menerus yang mengarah pada pendekatan pengembangan yang lebih mapan terhadap rekayasa perangkat lunak.
Rekayasa perangkat lunak adalah pendekatan yang sistematis terhadap pengembangan, pengoperasian, pemeliharaan dan pengakhiran (retirement) perangkat lunak. Rekayasa Perangkat Lunak merupakan penerapan sains dan matematika dimana kemampuan peralatan komputer berguna bagi manusia melalui program komputer, prosedur, dan dokumentasi terkait.
Tujuan dasar rekayasa perangkat lunak adalah untuk mengembangkan metode dan prosedur pengembangan perangkat lunak yang dapat meningkatkan sistem yang besar dan dapat digunakan secara konsisten untuk menghasilkan perangkat lunak berkualitas tinggi dengan biaya rendah dan dengan siklus waktu yang kecil.
Sejarah Rekayasa Perangkat Lunak
Rekayasa perangkat lunak telah berkembang sejak pertama kali diciptakan pada tahun 1940-an hingga kini. Fokus utama pengembangannya adalah untuk mengembangkan praktik dan teknologi untuk meningkatkan produktivitas para praktisi pengembang perangkat lunak dan kualitas aplikasi yang dapat digunakan oleh pemakai.
1945 - 1965: Awal
Istilah software engineering digunakan pertama kali pada akhir 1950-an dan awal 1960-an. Saat itu, masih terdapat debat tajam mengenai aspek engineering dari pengembangan perangkat lunak.
Pada tahun 1968 dan 1969, komite sains NATO mensponsori dua konferensi tentang rekayasa perangkat lunak, yang memberikan dampak kuat terhadap perkembangan rekayasa perangkat lunak. Banyak yang menganggap bahwa dua konferensi inilah yang menandai awal resmi profesi rekayasa perangkat lunak. jangan pernah menganggap kalau software itu akn menjadi yang terbaik karena itu adalah sebuah karya yang bersifat sementara.
1965 - 1985: krisis perangkat lunak
Pada tahun 1960-an hingga 1980-an, banyak masalah yang ditemukan para praktisi pengembangan perangkat lunak. Banyak projek yang gagal, hingga masa ini disebut sebagai krisis perangkat lunak. Kasus kegagalan pengembangan perangkat lunak terjadi mulai dari projek yang melebihi anggaran, hingga kasus yang mengakibatkan kerusakan fisik dan kematian. Salah satu kasus yang terkenal antara lain meledaknya roket Ariane akibat kegagalan perangkat lunak.
1985 - kini: tidak ada senjata pamungkas
Selama bertahun-tahun, para peneliti memfokuskan usahanya untuk menemukan teknik jitu untuk memecahkan masalah krisis perangkat lunak.
Berbagai teknik, metode, alat, proses diciptakan dan diklaim sebagai senjata pamungkas untuk memecahkan kasus ini. Mulai dari pemrograman terstruktur, pemrograman berorientasi object, perangkat pembantu pengembangan perangkat lunak (CASE tools), berbagai standar, UML hingga metode formal diagung-agungkan sebagai senjata pamungkas untuk menghasilkan software yang benar, sesuai anggaran dan tepat waktu.
Pada tahun 1987, Fred Brooks menulis artikel No Silver Bullet, yang berproposisi bahwa tidak ada satu teknologi atau praktik yang sanggup mencapai 10 kali lipat perbaikan dalam produktivitas pengembangan perangkat lunak dalam tempo 10 tahun.
Sebagian berpendapat, no silver bullet berarti profesi rekayasa perangkat lunak dianggap telah gagal. Namun sebagian yang lain justru beranggapan, hal ini menandakan bahwa bidang profesi rekayasa perangkat lunak telah cukup matang, karena dalam bidang profesi lainnya pun, tidak ada teknik pamungkas yang dapat digunakan dalam berbagai kondisi.
Sumber


Komentar
Posting Komentar